Taiwan Meminta Usahanya Kibarkan Bendera di Myanmar Supaya Tidak Disangka Cina

Taiwan Meminta Usahanya Kibarkan Bendera di Myanmar Supaya Tidak Disangka Cina
January 14, 2023 0 Comments

Kasus kebakaran pabrik punya Cina di Hlaingthaya saat demo Kup Myanmar membuat Taiwan khawatir. Diambil dari Kanal News Asia, Pemerintahan Taiwan minta perusahaan-perusahannya di Myanmar mengibarkan bendera nasional untuk berlindung dari serangan masyarakat.

Berjumpa Beskal Agung Mahfud MD Ulas Implementasi Pasal 2 dan 3 UU Tipikor

Menurut Pemerintahan Taiwan, masyarakat Myanmar cuma akan mengarah beberapa perusahaan atau bangunan punya Cina. Oleh karena itu, supaya tidak disangka sebagai perusahaan asal dari Cina, Pemerintahan Taiwan berpikiran pengibaran bendera nasional menjadi pertanda.

“Selama ini cuman satu perusahaan Taiwan yang terjerat dalam kekacauan di Myanmar. Ada 10 masyarakat Taiwan yang terjerat dalam gedung meskipun mereka selamat,” tutur Kementerian Luar Negeri Taiwan, Senin, 15 Maret 2021.

Selainnya mengibarkan bendera, Pemerintahan Taiwan mereferensikan beberapa perusahaan di Myanmar untuk memasangkan baliho yang menjelaskan mereka tidak dari Cina. Tetapi, kata mereka, pengakuan di baliho itu harus tercatat dengan bahasa Myanmar (Burma).

“Juga bisa menerangkan ke karyawan lokal atau tetangga-tetangga jika perusahaan berkaitan bukan datang dari Cina, tapi dari Taiwan, untuk menghindar salah paham,” tutur Kementerian Luar Negeri Taiwan menambah. Mereka akui telah minta bantuan kantor perwakilannya di Myanmar untuk memberi anjuran atau instruksi berkaitan pertanda pengenal itu.

Sebagai catatan, beberapa perusahaan Taiwan pernah disangka perusahaan Cina awalnya. Hal tersebut terjadi pada tahun 2014 saat masyarakat berunjuk rasa masalah pengeboran terlepas laut Cina di daerah perairan Vietnam, Laut Cina Selatan. Sebuah pabrik perusahaan asal Taiwan dibakar oleh masyarakat karena disangka datang dari Cina.

Masyarakat mengusung seorang pengunjuk rasa yang ditembak pasukan keamanan saat demonstrasi anti-kudeta militer di Thingangyun, Yangon, Myanmar 14 Maret 2021. REUTERS/StringerSelama ini, status Cina dan Taiwan memang masih jadi bahan pembicaraan. Cina mengeklaim Taiwan sebagai bagiannya, seperti Hong Kong dan Macau, tetapi Taiwan berasumsi kebalikannya. Taiwan berasa dianya sebagai negara mandiri hingga tak perlu mengikuti klaim-klaim Cina.

Berkaitan status Cina di Myanmar, sentimen anti-Cina disampaikan berkembang semenjak kup berjalan. Faksi oposisi dari junta militer mempersoalkan sikap Cina yang condong diam dalam menanggapi kup Myanmar. Beberapa faksi bahkan juga berasumsi Cina akan manfaatkan keadaan di Myanmar untuk perkuat dampaknya di Asia Tenggara.

Sejauh kup Myanmar berjalan, Cina memang condong lebih tenang. Selainnya tidak jatuhkan ancaman pada Militer Myanmar, Cina memandang apa yang terjadi di situ ialah perselisihan intern. Bahkan juga, beberapa media punya pemerintahan di Cina menyebutkan keadaan kup Myanmar sebagai “reshuffle cabinet besar”.

Sikap Cina itu kontras dengan beberapa negara Barat. Mereka telah jatuhkan ancaman ekonomi dan individual pada beberapa petinggi Militer Myanmar. Amerika bahkan juga perkuat ancamannya minggu ini dengan memblok beberapa kegiatan dagang yang terkait dengan Kementerian Pertahanan Myanmar.

Tidak ada sikap tegas dari Cina membuat lama waktunya di Facebook jadi target masyarakat Myanmar. Apa lagi, saat terjadi di pembantaian di Hlaingthaya yang tewaskan beberapa puluh orang. Saat hal tersebut terjadi, Cina justru mempersoalkan keamanan pabriknya, bukan masalah warga-warga yang meninggal ditembak di situ.